Visit the Museum

Exhibitions

Learn

Teach

Collections

Academic Research

Remember Survivors and Victims

Genocide Prevention

Antisemitism and Holocaust Denial

Outreach Programs

Other Museum Websites

< Meet Holocaust Survivors

Alfred (Al) Münzer

Share
Alfred (Al) Münzer
Dilahirkan: November 23, 1941, Den Haag, Belanda

Alfred (AI) Münzer lahir pada 23 November 1941 di Den Haag, Belanda. Alfred selamat dalam Holokaus karena ia diselamatkan oleh keluarga Indonesia yang tinggal di Belanda. Ayahnya, Simcha, memiliki bisnis jahit dan ibunya, Gisele, berada di rumah untuk menjaga Alfred dan kedua kakaknya, Eva dan Leah.

Pada Mei 1942, ayah Alfred diperintahkan untuk melapor ke kamp buruh Jerman, namun mengabaikan perintah itu dengan pergi ke dokter untuk memeriksakan diri untuk menjalani operasi hernia. Pada bulan September, semakin jelas bahwa seluruh keluarga perlu bersembunyi. Simcha berpura-pura mencoba bunuh diri agar dilarikan ke rumah sakit jiwa dekat Den Haag. Sementara Gisele menjual harta keluarga dan menitipkan anak-anaknya pada teman dan tetangga sebelum menyusul Simcha di rumah sakit sebagai asisten perawat.

Eva dan Leah pada mulanya dititipkan pada dua orang perempuan yang merupakan tetangga di sebelah rumah keluarga Münzer. Sekitar setahun kemudian, kedua anak perempuan itu dipindahkan ke rumah perempuan lainnya. Namun, pada awal 1944 suami wanita itu melaporkannya dan anak-anak kepada pihak berwenang. Ketiganya ditangkap dan dikirim ke Westerbork. Pada 8 Februari 1944, Eva yang berusia tujuh tahun dan Leah, lima tahun, dideportasi ke Auschwitz, tempat mereka dibunuh setibanya di sana. Perempuan yang menyembunyikan mereka dikirim ke Vught, lalu ke Ravensbruck, tetapi pada akhirnya dibebaskan.

Alfred diasuh seorang teman bernama Annie Madna, yang menitipkannya pada kakaknya. Namun, sebulan kemudian kakak Annie menjadi terlalu takut untuk menjaganya. Kemudian Annie menitipkan Alfred pada mantan suaminya, Tolé, orang asli Indonesia. Selama tiga tahun berikutnya Alfred tinggal di rumah Tolé, dirawat pengasuh mereka, Mima Saïna, yang menjadi ibu penggantinya. Keluarga Madna memperlakukannya seperti salah satu anak mereka sendiri, tetapi ia tidak diizinkan untuk meninggalkan rumah dengan rasa takut karena seseorang mungkin melihatnya dan menjadi curiga. Meskipun penampilannya berbeda, Alfred yang berambut pirang dan bermata biru tidak merasa berbeda dengan keluarga Indonesia-Belanda-nya yang lain dan terlalu muda untuk mempertanyakan mengapa ia disembunyikan di ruang bawah tanah saat Gestapo datang.

Pada awal tahun 1943, orang tua Alfred pertama kali dideportasi ke Westerbork lalu ke Vught. Mereka terpisah ketika Simcha dideportasi ke Auschwitz pada Maret 1944. Pada Januari 1945, Simcha dikirim ke Mauthausen dan sejumlah kamp lain sebelum dibebaskan di Ebensee. Ia meninggal dua bulan kemudian di sebuah biara terdekat di mana ia menerima perawatan medis. Gisele dideportasi ke Auschwitz pada Juni 1944 dan tak lama kemudian dikirim untuk bekerja di salah satu pabrik Telefunken di dekat Reichenbach. Setelah pabrik tersebut dibom pada musim panas tahun 1944, ia dibawa ke serangkaian kamp konsentrasi, dan akhirnya dibebaskan di perbatasan Jerman dengan Denmark pada musim semi 1945, lalu dievakuasi ke Swedia. Pada bulan Juli ia dipulangkan ke Belanda.

Saat Gisele kembali untuk menemui Alfred, Alfred yang saat itu berusia tiga setengah tahun tidak ingat siapa Gisele. Untuk mempermudah peralihan, Gisele mengundang ibu pengganti Alfred, Mima, untuk terus merawatnya. Namun, beberapa bulan kemudian Mima meninggal dunia.  Saat Alfred berusia enam tahun, ibunya membuka toko kosmetik di Belanda. Pada tahun 1952, mereka pindah ke Belgia di mana mereka tinggal sampai berimigrasi ke Amerika Serikat pada tahun 1958. Saat ini, Alfred adalah seorang dokter ahli penyakit dalam dan paru-paru serta tinggal di Washington, DC. Ia masih berhubungan dekat dengan anak-anak Tolé.

Dengarkan Alfred Münzer membahas keputusan sulit yang harus dibuat orang tuanya sesaat sebelum ia lahir.