United States Holocaust Memorial Museum The Power of Truth: 20 Years
Museum   Education   Research   History   Remembrance   Genocide   Support   Connect
Donate

 

Mars Kematian — Sejarah Pribadi

Fritzie Weiss Fritzshall
Dilahirkan: 1929, Klucarky, Cekoslowakia

Menggambarkan tentang mars kematian dari Auschwitz. [Wawancara Video: 1990]

Transkrip:

Kami tahu bahwa itu adalah hari terakhir perang, kami tahu dari bombardemen-bombardemen dan kami tahu dari cara serdadu Jerman mendorong dan menarik kami dan mengosongkan kamp dan apalah. Mereka menjemput kami semua dan mengumpulkan kami, semua orang dari kamp-kamp, dan mereka memaksa kami melakukan mars melewati kota-kota dan ladang-ladang. Mereka tidak tahu lagi kami mau dikemanakan dan mereka tidak tahu apa yang mesti dilakukan dengan kami dan tidak ada makanan karena Jerman mulai kalah dalam perang. Sering kali ketika mereka menggiring kami lewat suatu kota, sebuah jendela membuka dan sebuah daun jendela membuka dan sebutir kentang atau sepotong roti akan terbang keluar dan daun jendela langsung menutup lagi. Dan kami semua bakal merebutkan kentang itu atau apa pun makanan yang dilemparkan kepada kami. Tentu saja mereka akan menembaki kami, tapi saat itu kami tidak peduli sebab kami lapar. Jalan-jalan benar-benar dipenuhi oleh mayat yang berserakan saat kami melakukan mars. Kami berjalan melewati mayat-mayat, mayat demi mayat demi mayat, orang-orang yang mati di tempat karena lapar, karena penyakit, karena disentri, karena mereka tidak punya kekuatan lagi atau karena mereka sudah menyerah.

Kami tahu bahwa itu adalah hari terakhir perang, kami tahu dari bombardemen-bombardemen dan kami tahu dari cara serdadu Jerman mendorong dan menarik kami dan mengosongkan kamp dan apalah. Mereka menjemput kami semua dan mengumpulkan kami, semua orang dari kamp-kamp, dan mereka memaksa kami melakukan mars melewati kota-kota dan ladang-ladang. Mereka tidak tahu lagi kami mau dikemanakan dan mereka tidak tahu apa yang mesti dilakukan dengan kami dan tidak ada makanan karena Jerman mulai kalah dalam perang. Sering kali ketika mereka menggiring kami lewat suatu kota, sebuah jendela membuka dan sebuah daun jendela membuka dan sebutir kentang atau sepotong roti akan terbang keluar dan daun jendela langsung menutup lagi. Dan kami semua bakal merebutkan kentang itu atau apa pun makanan yang dilemparkan kepada kami. Tentu saja mereka akan menembaki kami, tapi saat itu kami tidak peduli sebab kami lapar. Jalan-jalan benar-benar dipenuhi oleh mayat yang berserakan saat kami melakukan mars. Kami berjalan melewati mayat-mayat, mayat demi mayat demi mayat, orang-orang yang mati di tempat karena lapar, karena penyakit, karena disentri, karena mereka tidak punya kekuatan lagi atau karena mereka sudah menyerah.

Ayah Fritzie beremigrasi ke AS, tetapi pada waktu dia dapat mendatangkan keluarganya, perang telah pecah dan ibu Fritzie mengkhawatirkan akan serangan terhadap kapal-kapal lintas Samudra Atlantis. Fritzie, ibunya, dan dua saudara laki-lakinya akhirnya dikirim ke Auschwitz. Ibu dan dua saudara laki-lakinya gugur. Fritzie selamat dengan cara berpura-pura berlaku lebih tua dari umurnya sebenarnya sehingga dianggap pekerja yang lebih kuat. Dalam mars kematian dari Auschwitz, Fritzie melarikan diri ke dalam hutan di mana kemudian dia dibebaskan.

— US Holocaust Memorial Museum - Collections

Copyright © United States Holocaust Memorial Museum, Washington, D.C.